Sistem Lightning Detector di Stasiun Geofisika Denpasar

Arindea3 November 2025


Petir merupakan fenomena alam yang terjadi akibat pelepasan muatan listrik, baik positif maupun negatif, yang terdapat di dalam awan. Berdasarkan lokasi terjadinya, petir dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu Intra Cloud (IC), Cloud to Cloud (CC), dan Cloud to Ground (CG). Pada jenis Cloud to Ground (CG), sambaran petir dibagi menjadi dua tipe, yaitu CG– (negatif) dan CG+ (positif), tergantung pada arah perpindahan muatan listriknya.


Indonesia sebagai wilayah tropis memiliki aktivitas petir yang cukup tinggi, terutama pada musim penghujan. Untuk mendukung kegiatan observasi geofisika dan mitigasi bencana, Stasiun Geofisika Denpasar dilengkapi dengan sistem Lightning Detector (LD) yang berfungsi untuk mendeteksi dan memantau aktivitas petir secara real-time.


Sistem ini terdiri atas tiga komponen utama, yaitu sensor ANT-2, receiver LD-350, dan perangkat lunak NexStorm. Kombinasi ketiganya memungkinkan pemantauan arah, intensitas, serta frekuensi sambaran petir di wilayah Bali dan sekitarnya secara cepat dan akurat.


  1. Sensor ANT-2: Pendeteksi Sinyal Elektromagnetik Petir

    Ketika terjadi sambaran petir, timbul gelombang elektromagnetik yang menjalar di atmosfer. Sensor ANT-2 berfungsi menangkap sinyal elektromagnetik tersebut, kemudian menentukan azimuth sambaran petir.


    Sensor dipasang pada tiang penyangga yang kokoh dan diarahkan ke true north menggunakan kompas. Posisi sensor yang stabil dan bebas dari gangguan elektromagnetik sangat penting untuk memastikan data yang dihasilkan memiliki kualitas baik.


    Gambar 1. Sensor ANT-2 Lightning Detector



  2. Receiver LD-350: Pengolah Sinyal

    Data hasil tangkapan sensor ANT-2 diteruskan melalui kabel Cat-6 menuju receiver LD-350. Perangkat ini berfungsi sebagai penguat, penyaring, dan penerjemah sinyal menjadi data digital yang dapat diolah oleh komputer pengamatan.


    Gambar 2. Receiver LD-350


  3. Perangkat Lunak NexStorm: Visualisasi Data Petir

    Data yang dihasilkan receiver LD-350 selanjutnya divisualisasikan menggunakan perangkat lunak NexStorm. Aplikasi ini menampilkan peta sebaran sambaran petir secara real-time, lengkap dengan informasi waktu, arah, dan intensitas setiap kejadian.


    Pada tampilan NexStorm, setiap sambaran petir digambarkan dengan simbol berbeda, misalnya tanda “+” atau “–” untuk membedakan antara muatan positif dan negatif. Selain pemantauan langsung, aplikasi ini juga menyimpan rekaman historis sambaran petir.


    Gambar 3. Perangkat Lunak NexStorm


Agar sistem dapat bekerja secara optimal, dilakukan pemeliharaan rutin sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP). Alat pendeteksi petir ini juga bermanfaat sebagai bahan analisis cuaca ekstrem serta validasi terhadap data curah hujan.

Peta Gempa Terkini Wilayah Bali
informasi gempa bumi region 3